Ke Atas

Klarifikasi penulis buku pelajaran berkonten LGBT

Oleh Randi Mahesa / Diterbitkan pada Kamis, 04 Jan 2018 11:56 AM / Belum ada komentar / 21 pembaca
Ada kalimat pada buku tersebut diduga kuat berkonten LGBT. (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)

Sijoripost.com – Buku berjudul, Balita Langsung Lancar Membaca dengan metode Bermain Sambil Belajar yang ditulis Intan Noviana menuai kontroversi. Sebab, buku tersebut diduga berisi konten Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Sang penulis, Intan menyambangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk mengklarifikasi isi buku tersebut pada Rabu 3 Januari 2018. Sebelumnya, pihak penerbit yaitu Pustaka Widyatama juga sudah memberikan klarifikasi kepada KPAI terkait buku tersebut.

Intan mengatakan, dari hasil pertemuan dengan pihak KPAI, dia mengaku bahwa buku ‘Balita Langsung Lancar Membaca’ yang mengandung konten LGBT itu merupakan tulisannya bersama Purnama Andri.

“Sebenarnya buku itu pernah heboh di tahun 2012 dan saya sempat diwawancarai salah satu stasiun televisi swasta. Tahun 2012 pun buku yang dimaksud itu sudah ditarik dari masyarakat, dari toko-toko buku,” ujar Intan di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 3 Januari 2018.

Konten LGBT yang dimaksud dalam buku Balita Langsung Lancar Membaca adalah pada kalimat “Opa bisa jadi waria”, “Fafa merasa dia wanita”, dan “Ada waria suka wanita”.

Intan menyatakan, dia tidak punya motif apapun terkait kalimat-kalimat yang bermuatan LGBT itu.

“Kalimat ‘Opa bisa jadi waria’, karena sering banyak konflik dengan waria di Jogja yang sangat sering mengganggu. Karena meminta (uang) secara paksa. Dari situ saya mengambil kata waria. Diperkenalkan kata itu agar anak memahami arti kata waria,” ujar Intan.

“Tetapi mungkin ini jadi pelajaran buat saya. Saya minta maaf,” lanjutnya.

Dia menambahkan, pemilihan waria karena kehabisan kata dalam menulis bukunya. Supaya tidak ada kata yang sama dengan buku-buku yang sebelumnya pernah ia tulis, maka ia memasukkan kata waria di buku Balita Langsung Lancar Membaca itu.

“Tidak sengaja dan tidak bermaksud memasukkan konten LGBT dalam buku itu,” ucap Intan.

Intan menjelaskan, sebagai bentuk klarifikasi bahwa ia tidak mengkampanyekan LGBT pada buku yang ia tulis, ia juga membuat alat peraga pendidikan yang disesuaikan dengan jenis kelamin anak laki-laki dan perempuan.

“Salah satu bukti bahwa saya tidak setuju dengan LGBT, saya membuat alat peraga pendidikan di usia dini. Saya buat alat peraga khusus anak laki-laki dan anak perempuan. Maksudnya adalah bagaimana anak di usia dini itu tahu kalau dia laki-laki atau dia perempuan,” kata Intan.

Dalam metode belajar yang ia gunakan, ia ingin mengajarkan kepada anak-anak tentang cara membaca yang disesuaikan dengan kegiatan anak tersebut berdasarkan jenis kelaminnya dan tidak monoton dengan diam belajar di tempat.

“Kalau untuk anak perempuan kita tidak memberikan kegiatan tembak-tembakan umpamanya seperti itu. Kalau untuk anak laki-laki, kita tidak berikan kegiatan main boneka. Jadi kalau di metode saya, anak kan bisa membaca dengan berkegiatan bukan dengan duduk diam,” jelas dia.

Dia mengatakan, metode bermain sambil belajar ditemukan saat menjadi guru honor di SD Negeri Slogohimo 3, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah pada 1998.

“Saat itu saya menemukan metode ini bagaimana anak yang dianggap IQ rendah, kemudian saya sebagai gurunya merasa bertanggung jawab untuk anak itu bisa membaca,” terangnya.

Akan tetapi, kemudian ia memutuskan berhenti sebagai guru karena ingin mendalami metode belajar membaca ini kepada anak-anak.

“Saya keluar menjadi PNS pada tahun 2007 dan pada 2008 saya mulai menulis buku bacaan untuk anak dan terbit pada 2009. Saya memutuskan keluar menjadi PNS karena ingin fokus mendalami metode membaca kepada anak-anak,” Intan menandaskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares