Ke Atas

Selesai dibangun 2017 lalu, sejumlah titik jalan menuju Muara Takus rusak

Oleh Randi Mahesa / Diterbitkan pada Minggu, 07 Jan 2018 19:03 PM / Belum ada komentar / 40 pembaca
Badan jalan retak dan pecah di perbatasan Desa Koto Tuo Barat dengan Desa Muara Takus

Kampar, Sijoripost.comJalan dari Simpang Batu Bersurat ke Muara Takus di Kecamatan XIII Koto Kampar yang baru selesai dikerjakan, mulai rusak.

Bukan hanya di Kilometer 4 Pematang Kuras Bukit Tangkue Desa Binamang yang ambrol akhir 2017 lalu.

Kerusakan parah juga tampak di beberapa ruas jalan lain.

Seperti di Ngalau Indah Kelurahan Batu Bersurat.

Di salah satu sisi jalannya, terdapat lubang menganga sekitar dua meter dengan kedalaman lebih kurang dua meter.

Lubang itu disebabkan oleh lapisan tanah di bawah badan jalan longsor.

Akibatnya, jalan beraspal hitam yang baru selesai dikerjakan itu ikut amblas.

Di lokasi dipasang tanda seadanya mengelilingi lubang.

Hanya kayu menancap di badan jalan dan tanah.

Berikutnya di Desa Koto Tuo yang kondisinya mirip dengan Ngalau Indah.

Kemudian di sekitar perbatasan Desa Koto Tuo Barat dengan Desa Muara Takus.

Lapisan aspal retak sampai pecah karena badan jalan terangkat.

Sehingga menimbulkan gundukan.

Proyek ini dikerjakan tahun 2017 pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Riau.

Tender dimenangkan oleh PT. Pebana Adi Sarana dengan nilai penawaran Rp. 40.858.163.232,48.

Pebana Adi Sarana sekaligus menjadi pemegang kontrak proyek bernama Peningkatan Jalan Simpang Batu Bersurat-Muara Takus itu.

Nilai kontrak hampir Rp 10 miliar di bawah nilai pagu paket yang mencapai Rp. 49.904.287.400.‎

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kampar, Afdal sudah mengetahui kerusakan di sejumlah ruas Jalan Batu Bersurat-Muara Takus Kecamatan XIII Koto Kampar yang rusak, padahal baru selesai dibangun 2017 lalu.

Menurut Afdal, bahkan kerusakaan itu sudah mulai terlihat saat meninjau jalan ambrol di Kilometer 4 Pematang Kuras Bukit Tangkue Desa Binamang pada 25 Desember 2017 lalu.

“Sekarang sudah makin parah,” ungkapnya, Minggu (7/1/2018).

Afdal mengaku belum mendapat penjelasan rinci dari Dinas PUPR Provinsi Riau tentang kerusakan tersebut.

Namun ia memperkirakan, penyebabnya sama.

“Kayaknya (penyebabnya) sama. Karena tanahnya yang labil,” katanya.

Soal rencana Dinas PUPR yang bertanggung jawab terhadap kerusakan tersebut, Afdal belum tahu.

Ia belum mendapat penjelasan soal langkah yang akan diambil untuk mengatasi kerusakan agar tidak kian parah.

Afdal mengaku kesulitan berkomunikasi dengan PUPR Riau. “Nomor (seluler) Pak Dadang (Kepala Dinas PUPR Riau, Dadang Eko Purwanto) sering tidak aktif. Sebenarnya ini yang mau kita bicarakan,” pungkasnya.

tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares