Ke Atas

Sultan Mahmud Riayat Syah: Siapakah Dia?

Oleh Randi Mahesa / Diterbitkan pada Jumat, 10 Nov 2017 20:07 PM / Belum ada komentar / 95 pembaca
Sultan Mahmud Riayat Syah

Sijoripost.com – Namanya Mahmud. Putra pasangan dari Sultan Abdul Jalil ibn Sultan Sulaiman dan Engku Putih binti Daeng Celak.

Tidak ada kabar jelas perihal tahun kelahirannya. Dalam naskah-naskah klasik disebutkan, ia telah diangkat menjadi Sultan Kerajaan Riau-Johor-Pahang pada usia yang belia, yakni sekitar berusia 2 tahun pada 1761.

Pengangkatannya itu karena terjadi kekosongan jabatan sultan sehingga para pembesar kerajaan, baik dari kalangan Melayu maupun Bugis, tak ingin mengingkari janji sumpah setia yang telah ditabalkan oleh para pendahulu mereka.

Pengangkatan itu disahkan oleh Yang Dipertuan Muda (YDM) Kerajaan Riau-Johor-Pahang Daeng Kamboja dan disetujui oleh pemuka kerajaan lainnya pada 1761 Masehi.

Gelar resminya ketika telah menjadi sultan ialah Yang Dipertuan Besar (YDB) Kesultanan Riau-Johor-Pahang Sultan Mahmud Riayat Syah III. Ia menjadi sultan yang kelima belas (15).

Karena ia masih bayi, tugas-tugas kerajaan pun dilaksanakan oleh YDM Daeng Kaboja sembari mengasuh Mahmud kecil. Mahmud dijaga super ketat karena khawatir menjadi incaran musuh serta pihak-pihak yang tidak setuju dengan pengangkatannya. Sebab Abangnya, Sultan Ahmad Riayat Syah, dianggat menjadi Sultan diduga wafat karena racun.

Tak ingin hal itu terulang kembali dan untuk melanjutkan trah kesultanan Riau-Johor-Pahang, YDM Daeng Kamboja dan anaknya Kelana Raja Haji, menjaga dan mendidik Mahmud kecil dengan baik. Layaknya keluarga istana dan bangsawan lainnya, Mahmud tumbuh besar di lingkungan istana di Hulu Riau.

Ketika ia usia mulai beranjak dewasa, ia pun kerap diajak berpetualang mengunjungi daerah-daerah lain yang berada di kawasan taklukan kerajaan, termasuk mengunjungi sanak keluarga di semenajung Melayu, Johor dan Pahang. Hal itu mematangkan pengetahuannya tentang kerajaan.

Duka mendalam keluarga kerajaan ketika YDM Daeng Kamboja mangkat, begitu juga Sultan Mahmud Riayat. Tetapi, ia sadar posisi YDM tidak boleh kosong terlalu lama. Maka ia pun mengangkat Raja Haji, yang tak lain adalah pamannya sendiri.

Sejak saat itu, kedua pimpinan kerajaan Riau-Johor-Pahang ini saling bahu membahu. Dua tokoh ini pula yang berinisiatif melakukan penyerangan ke markas Belanda di Malaka.

Dalam buku “Kejuangan dan Kepahlawanan Sultan Mahmud Riayat Syah” disebutkan, ketika berhasil memukul mundur pasukan kolonial Belanda di Tanjunpinang, mereka menggiring armada pasukan Belanda yang kembali ke Malaka.

Dalam perjalanan, armada kerajaan Riau-Johor-Pahang singgah di Muar. E. Netscher menuliskan, pada 13 Februari 784, sekitar dua minggu setelah pasukan Belanda di Malaka, pasukan YDM Raja Haji pun mendarat dengan kekuatan besar di Teluk Ketapang yang hanya beberapa mil saja dari Malaka.

Hal itu membuat Belanda pasukan kelabakan sebab kakuatan itu tidak imbang. Karena itu, tulis Netscher, Gubernur Belanda mengirimkan surat permintaan bantuan ke Batavia (sekarang Jakarta).

Pasukan bantuan itu berjumlah sangat banyak dengan kekuatan armada laut yang tidak tertandingi oleh pasukan YDM Raja Haji. Tak pelak, YDM Raja Haji pun tutur gugur di medan perang itu dengan luka tembah di dadanya. Ia kemudian digelar dengan Raja Haji as-Syahid Fisabilillah atau lebih dikenal Raja Haji Fisabillah.

Sedangkan Sultan Mahmud Riayat Syah yang berada di Muar memilih melanjutkan perjalan ke Johor dan Selangor untuk melakukan diplokasi politik dan mengatur langkah stragis lainnya. Ia cukup terpukul dengan kepergian pamannya itu.

tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares